Thursday, February 07, 2013

Ibu Pejabat??



Baca Readers Digest Indonesia edisi Januari 2013, di halaman HUMOR SPESIAL 20 HALAMAN LOL!! (yang memuat Curcol Kantornya Anjar Oktaviani, Haihei Cumi ;), juga cerita humornya Kiki Kristiani, sodaraan nggak ya dengan mbak Dian Kristiani :P), aku ingat jaman-jaman sopir yang membawaku ngelabuin polisi 2-3 taon yang lalu, pas kami lagi otw di Surabaya… Maaph ya pak policiiii :* ,ehh? :D

Ceritanya, aku berdua temen baru aja dari Basuki Rahmad Surabaya, mau balik kearah kantor di bilangan Pasuruan sono. Waktu itu kami duduk di jok tengah. Naluri wanitalah: kita lagi bercerita, asyik ngegosip, dan sibuk komentarin papan-papan iklan gadget baru di sepanjang jalanan. Yaah, daripada bikin ribet pak driver yang sedang bekerja…herrrr tuk tik tak tik tuk, suara ban Innova!

Untuk masuk tol Kota Satelit-Darmo, pak sopir ambil posisi lajur kanan, mau nyerong motong Raya Darmo dan masuk kearah jalan Polisi Istimewa.

Tiba-tiba… Entah lagi apes, ato apa… PRITTTTTTTTTTT!! Peluit panjang melengking menjerit mengiringi mobil kami yang meluncur hampir mencapai depan Konsulat Amerika.

Secara bersama-sama, bagai di film-film drama, dengan gerakan slow motion, aku berdua temanku menengok ke belakang mobil. Dari kejauhan, seorang bapak polisi berbadan ndut dan berperut gembul nyebrang jalan  menuju  mobil kami yang telah menepi dan teronggrok dengan gemulainya.

“Ada apa? Ada apa, pak?” Tanyaku gugup ke pak sopir. Ini yang harusnya gugup kan pak sopir? Kenapa aku ikut-ikutan senewen?

“Polisinya naksir Innova ini, kali…” gumam temanku. Iya, masuk akal sih! Plat mobil yang kami tumpangin N. Biasanya mobil luar kota begini, jadi kecengan  asyik buat polisi-polisi. Kan kita berasal dari desa? Gagap kota! Gampang nggak mudeng dengan rambu-rambu lalin yang ada. Nggak hapal, karena jarang melewati. Nggak kenal juga dengan pak polisi-polisi yang bertugas. Tak kenal maka abang  nggak  sayang. KATANYA.

“Kenapa ya, pak?”

“Tadi lampunya masih hijau , kok…” jawab pak driver sekilas, sebelum keluar dari mobil. Nggak lupa dia meraih STNK dari dashboard,  sebelum beranjak pergi.

“Waduh, ditilang nih, pak,” prediksiku kacau.

“Berapa ya kalo nembak di Surabaya gini?”

Aku mengangkat bahu. Kalo nembak, memang kita bawa senapan angin?

Dari dalam mobil, kami perhatikan pak Wanmen-nama sopir kantor- menunduk-nunduk takzim bak orang Jepang menghormati orang lokal. Tangannya lantas mengangsurkan surat kelengkapan. Si polisi serius memeriksa SIM dan STNK. Mereka terlihat terlibat percakapan serius. Hanya sebentar. Lalu si polisi menyerahkan SIM dan STNK ke pak Wanmen kembali. Lantas polisinya beranjak pergi. Pak Wanmen sendiri balik kearah mobil.

Aneh! Kok nggak ada penyerahan surat tilang seperti di  film-film? Bukannya tadi pak Wanmen juga nggak terlihat menyerahkan sepeserpun uang? Kok hilang scene itu? Apa scriptnya kelewatan? Halah!

“Bayar berapa, pak?” Tanya kami hampir bersamaan begitu pak Wanmen masuk kembali ke mobil.

“Nggak bayar, mbak.”

“Lhah, kok bisa? Pilih tilang kah, pak?” tanyaku heran.

“Nggak, mbak. Sama dia saya disuruh pergi gitu aja.”

“Enak banget?” seru temanku,” Kok bisa? Ini nggak wajar ini…”

“Memang dibilangin apa sama pak Wanmen polisinya?”

Pak Wanmen malah meringis. Untung giginya nggak gigis.

“Saya bilang: Maaf pak, saya pikir tadi masih hijau lampunya. Jadi saya langsung belok. Taunya sudah berubah kuning. Maaf ya pak, Saya buru-buru ini. Mau ngantar  ibu di Shangri-La. Bapak lagi ada acara, ditunggu di sana sama beliau…”

JIAHHHHHHHH!!

BWAHAHAHAHA.

Aku berdua temanku ngakak bareng. Gila, jenius juga ide pak Wanmen, nih! Pemain watak yang hebat. Coba aja ada Hanung Brahmantyo lagi lihat. Bisa jadi main di filmnya mendatang.

“Waahhh, begini rasanya jadi ibu-ibu pejabat yaaa... Hahaha…!” Temanku ketawa nggak berenti,”Tapi…” dia mencowel pipinya,”aku… Aku kan masih ABG gini? Huaaaaa…” tawanya lalu berubah jadi tangisan pilu cetar  membahana.