Saturday, January 26, 2013

Semua Bisa Berubah...

Buatku, semua yang berasa dan beraroma jahe, gak ada yang asyik dan gak perlu buat dinikmati. Walopun telah ada varian camilan yang mengandung jahe, kayak permen jahe, obat batuk jahe, kue kering serpihan jahe, obat nyamuk spray aroma jahe dan bermacam minuman tradisional macam ronde, angsle dan seterusnya, gak membuatku goyah untuk  mendoyaninya (apppah sih, ini?).

Di Surabaya, jaman aku masih sering tidur, mandi, dan menghabiskan seharian disana setiap hari, ada makanan (atau kategori minuman, yak?) namanya tauwa. Lagi-lagi beraroma jahe. Dari beberapa penikmatnya, yang menggilai tauwa ini bilang: tauwa berasal dari kedelai yang pembuatannya mirip tahu lalu disiram oleh kuah jahe yang rasanya pedes manis. Dan, aku yang gak suka rasa jahe (apalagi manis), walopun dibilang seuwenak apapun juga oleh oom Bondan sekalipun, aku teteup respon: huek!

Tapi, dengan berjalannya waktu, perasaan seseorang akan sesuatu bisa jadi berubah karena beberapa buah hal. Si Ardina Rasti yang dulu selalu terlihat mesra dengan Eza Gionino, sekarang malah melaporkan pacarnya itu ke polisi (korban insert pagi, ih!). Atau yang dulunya buenci begitu rupa, sekarang malah jatuh cintrong secara membabibuta. Akupun  yang dulu huek dengan si jahe, sekarang malah selalu mencari-carinya. Tanpa kehadirannya semalam saja, hidupku rasanya kurang lengkap. Makan gak nafsu, tidur gak nyenyak. Hidup serasa hampa. Ah!

Kenyataan berubah 360 derajat  itu terjadi karena aku sering menderita bengek! Yah bengek membuat segalanya berbalik. Paradigma tentang jahe luntur  lalu bergeser jauh. 

Aku sadari bersinku ini alergi, dan aku tau banget alergi gak akan bisa disembuhin. Yang bisa dilakukan untuk meminimalkan kemunculan alergi ini jalan satu-satunya adalah menghindari pemicunya. Tapi sebagai makhluk hidup yang tinggal di alam bebas (berasa bodat?), tentulah gak mudah buat menghindari pemicu yang ada. Aku tetap mencium aroma rokok setiap waktu. Walopun gak sering, tetanggaku setiap hampir akhir pekan membakar sampah di halaman belakang rumahnya. Sialnya, kamarku tepat berbatasan dengan tanah kosong tersebut. Biar jendela telah tertutup rapat, yang namanya asap pasti nyolong nerobos lewat celah-celah yang ada. Mau ngamuk, jelas gak mungkin. Khawatir aja dia bilang,”Lo mau apa? Yang gue bakar, sampah-sampah gue sendiri. Tempat barbequepun halaman-halaman gue sendiri!”

Nah, aku gak bisa bertengkar model begini, kurang elegan…

“Minumin obat aja…” beberapa teman mengusulkan alternatif.

Oh, no! Demi menjaga tubuh supaya gak terlalu nyimpan banyak racun akibat efek dari pemakaian obat, aku browsing mencari tanaman herba. Lewat om google aku ketikin kata kunci: herba untuk menghilangkan bersin-bersin.

Cling!! 

Dalam hitungan detik, si om langsung ngasih bocoran info sampe beberapa halaman. Beruntung aku hidup sudah di era internet. Lewat internet, kita bisa nyari apapun juga. Lengkap, selengkap-lengkapnya. Asal ada koneksi, pulsa lagi seksi,  sinyal baik hati, yang mustahil berubah jadi mustahal.

Setelah itu, hatiku jadi terbuka, mataku lupa ngantuk. Aku jadi teramat mencintai jahe. Aku takut kehilangan dia. Kini aku dan jahe hidup seia sekata. Tiap malam, pasti aku gak pernah absent negak jahe panas tawar. Kalo orang Bandung biasa teh panas tawar, aku gak mau ketinggalan. Mulanya aneh. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, bagaikan pepatah jawa, trisno jalaran soko kulino, rasa senengku pada jahe semula  kepaksa sekarang  jadi biasa.

Temank-temanku pada anjurin memcampurinya dengan gula. Tapi aku jelas-jelas menolaknya. Satu-satunya minuman yang aku masukin gula hanya kopi. 

Karena sudah terbiasa dengan aroma bau-bauan jahe, aku mulai ngikut gaya hidup beberapa teman yang doyan banget nongkrong tengah malam di warung  remang-remang lesehan ronde dan angsle!

Memang gak keren sih.  Anak sekolahan yang duit saku ngandelen ortu aja tongkrongannya Starbucks dan Exelso, nah aku cukup bersyukur dengan warung pinggir jalannya mang Jo!

Sutralah gapapa, yang penting bengekku sirna dan telah kutemukan gaya hidup murah meriah jauh dari bahaya…;)




Friday, January 25, 2013

Curcol Kantor - Anjar Oktaviani



Judul     : curcol kantor
Penulis : anjar oktaviani
Penerbit: Bukune
Halaman x+242
Harga    : 37.000
Cetakan I Juli 2011

Pertama kali ngeliat buku ini di display tobuk, entah kenapa saya tertarik untuk memiliki. Padahal hanya melihat sekilas judul, warna buku yang menurut saya manis, dan kartunnya yang lucu.

Hal selanjutnya yang saya lakukan, ngebaca sinopsis dibelakang sampul. Saya percaya, untuk melihat sekualitas apa isi buku komedi yang ada dalam sebuah  buku baru, biasanya dapat saya rasakan lewat contoh cuplikan yang berada dibelakang sampulnya. Ternyata, sampai dikata terakhir, keren juga contoh tulisannya. Lalu saya lirik harga. Syukurlah tidak sampai menyunat habis uang transport satu hari ke kantor. Pikir saya, tar kalau benar-benar kehabisan uang transport, nebeng saja ke teman dalam seharian. Hehe..

Baik di cover depan dan belakang tidak ada endorsment dari penulis terkenal, maupun artis yang lagi naik daun, seperti biasanya pada sebuah buku. Tapi saya tidak memandang sebelah mata terhadap buku yang tidak ada endorsernya. Mungkin saja Anjar Oktaviani memang pendatang baru dibuku komedi, tapi bukan berarti bukunya tidak bermutu dan berisi guyonan garing kan? Mungkin juga dia tidak sempat mengirimkan ke penulis, maupun artis terkenal untuk mengomentarinya. Benar kan? Atau mungkin juga, dia pede tingkat tinggi sehingga ada-tidaknya endorser bukan suatu bukti kalau buku itu bisa atau tidak untuk menjadi cetak ulang dan cetak ulang sehingga menuju best seller. Iya gak, iya dong…

Menurut kebiasaan saya, mulailah membaca sebuah buku dengan lebih dulu membaca pada halaman awal. Entah itu berjudul mukadimah, prakata atau ucapan terima kasih dari penulis.
Dari tulisan awal ini akan membuktikan kepiawaian penulisnya. Diawal-awal saja saya sudah ngikik membaca say thanks ala Anjar Oktaniani ini. Semakin kedalam membaca lembar demi lembar, semakin membuat ngikik saya berubah ngakak.

Buku curcol kantor ini sangat cocok dibaca oleh pegawai kantoran baru atau anak kuliahan yang akan lulus dan bersiap siap mencari kerja. Bukannya apa-apa, tapi dengan membaca buku ini, kalian akan mendapat gambaran awal saat menjelang memasuki dunia kerja yang kata Anjar nan cerah dan penuh tantangan (dihalaman 1). Tenang, kalian jangan panic dan parno duluan. Kalian ternyata tidak sendirian kok. Didalam buku ini dikupas habis A sampai Z suasana, pergaulan dan dunia kerja itu seperti apa secara nyatah dan apah adahnyah...:)

Buat yang sudah bangkotan alias malang-melintang didunia perkantoran dan sekarang sudah tidak lagi menjadi anak bawang, buku ini bisa dijadikan napak tilas dan reunian sehingga ketika sudah habis membacanya bakal berseru girang,"Ah dulu gue juga sempet unyu juga lho!"

Buku setebal 242 halaman yang terbagi dalam 36 curcol. Seperti halnya judul yang tertera, tokoh utama yang bernama pena Anjar dan nama panggilan saying dari gangnya: Cumi ini, memulai cerita pertamanya ketika berpredikat sebagai anak bawang yang putih, dilanjutkan interaksinya dengan para senior yang tentu saja sudah berumur. Satu yang juga tidak lepas dari celaan yaitu si bos. Dengan bahasa jujur dan konyol semua dibahas lengkap. Yang menarik, walaupun ada banyak sisi hitam si bos yang dibahas tuntas,  Anjar juga menceritakan sisi putih sang bos. Mengajarkan pada kita, disamping kekurangan, sebagai manusia tak sempurna, si bos juga punya sisi baik, yang bisa dinikmati pada hitam putih bosku. Sebagai penutup, curcol berjudul outbond berhasil membuat saya ngakak sumpah! :D

Gaya bahasa dan bertutur Anjar yang sederhana dan sehari hari-hari dan membumi, membuat buku ini jadi obat refreshing buat otak yang mulai bolot efect dari ketumpuk-tumpuk sama dokumen.
Tidak ada yang kurang dari buku ini, tapi satu hal sja yang sedikit menganggu, karena bersetting Jakarta, saya yang bukan warga ibu kota kerap mikir dengan jalan-jalan yang disebut oleh Anjar. Tapi itu hanya sedikit saja sih, tak sampai ganggu lalu lintas dan bikin traffic ngejam. Hihi… Eits, bisa jadi itu juga sebuah kelebihan ketika suatu hari nanti, kita pindah ke Ibukota, yak?!