Tuesday, May 14, 2013

WTS - Warung Tengah Sawah


Kemaren, 11 May 2013, setelah liburan 2 hari dengan aman dan damai, pagi-pagi aku ditodong orang-orang maksi keluar kantor.
“Okaylahhhhh!” Jawabku ga pake lama.
“Ke mana nih kita?”
“Terserah!”  Responku cepat. “Lo jual, gw beli, hihihi…”
Sebenarnya, ada beberapa alternative tempat maksi deket kantor. Pertama, Warung Padang Sederhana. Tapi, aku sang penyandang dana ‘ehm!’, dengan serta merta menolak. Bukan aku anti makanan suku Minang itu. Alasan utamanya, paling yang bisa ku santap hanya sambel ijo, daun singkong dan ‘segigitan nyamuk’ kikilnya yang asoy geboy itu. Lhah, lainnya? Tidakkkkk! Sebabnya, aku jaga tubuhku bener-bener buat ga kolesterolan. Cukuplah penyakit itu diderita oleh temen-temenku. Aku ga mau ikut-ikutan.
Kalau mau milih, sejujurnya aku lagi pengen Nasi Campurnya Janur Kuning, sih. Di ruko Lawang sana.
“Yeyy, rugi aja kalo kamu yang bayarin, trus kita makannya di Janur Kuning!” Celetuk cepet salah seorang teman.
Jiahhhh, ga mau rugi beneran nih predator-predator ini.
“Mang Engking, Mang Engking!” Seru temen lain yang kemarin bangkrut ditodong ke rumah makan tersebut. Untuk 25 orang, dia abisin 2,5 juta bok!
“Ogah!!!” Seruku cepat. Suasananya memang keren. Di tengah-tengah sawah gitu. Diiringi tiupan semilir angin gunung Welirang disiang yang garang. Tapi ternyata, suasana ‘mahal’ itu berbanding lurus dengan harga-harganya. Sementara yang aku suka disana cuma udang madunya semata. Coret!!!
“Parahyangan, ya?”  Seorang teman memberi usul,”Ato Cianjur?”
“Okay, Cianjur!” Jawabku tepat ketika mobil yang kami tumpangi meninggalkan lobby. Cianjur mahal sih, jaraknya dari kantor juga 35 menitan, tapi kan tar dapet diskon 10% pas bill keluar *teteup itung itungan matematis donk*. Hehehe.
“Woiiii, Cianjur yaaaaaa!” Tereak temanku yang duduk di tengah, ke mobil Rush dan Yaris yang sudah teronggok nungguin di depan security.
Pas keluar meninggalkan jembatan depan perusahaan, mas tarsan yang tadi tereak-tereak tiba-tiba bilang,”Eh, nyobain WTS yukkkk!”
“Oh ya ya yukkk!” Timpal ibu yang biasa ‘ngedate’ bareng dengan orang-orang BC kesana.”Gimana?” Dia menoleh ke arahku.
“Yuk, yukk!!” Jawabku antusias. Apalagi, kemarin ada temen yang cerita dia habis dari sana sama genk DPRD. Katanya, sambel trasinya tuh mantap abis. Udang gorengnya yang guide-guede katanya bener-bener haujek soro pas dicocolin sambel. Apalagi tempatnya ditengah sawah. Eh, mirip Mang Engking dong? Trus ada kolam ikannya juga, yang ikannya tuh kalau dilemparin apaaaa aja pasti diemploknya. Kok kayak Parahyangan? Penasaran deh. Lebih-lebih, bawa orang 19 bok kali ini, pasti duit yang dikeluarin juaohhh lebih irit. Haghaghag.
Innova yang kami tumpangin, akhirnya minggir di depan Indolakto. Dua mobil lainnyapun ngikutin parkir ke atas sungai yang sekarang sudah disulap jadi jalan raya itu. Indolakto memang hebat.
“Berubah tujuan bozz. Kita ke WTS. Ikutin aja mobil ini ya!” Seruku melongok lewat jendela ke mobil Rush di belakang.
Akhirnya, tanpa banyak cingcong, kamipun kembali melaju. Melewati padatnya arus Surabaya – Malang, pada Sabtu siang begini, sungguh sesuatunya Syahroni. Panas juga sih, tapi yang cetar itu justru perut kami-kami ini tengah jamnya minta diisi. Rasanya, pengen aja makan yang ada didepan mata. Tapi dimobil ga ada apa-apa yang layak dijadiin pengganjal  perut. Bawaannya jadi pengen marah aja.
Keluar Purwosari, menelusuri ramenya lalin Sukorejo, lalu Pandaan, eitsss kok ga nyampe-nyampe juga, sihhh?? Mana naga-naga di perut rasanya makin brutal pada demo. Ga nahan liat sesuatu yang genting, si ibu sebelahpun menelepon pemilik warung untuk nyiapin menu lebih awal. Supaya waktu  kita sampe, makanan sudah siap buat disikat.
“Udang goreng, lele goreng, patin juga. Eh, botoknya bandeng dan patin ya! Jangan lupa gurami dan tahu serta tempe goreng, mba! Okay, terima kasih,” pesannya lalu menutup telepon.
Jangan ditanya perut kami pas mendengar, makin terasa simpony alamnya. Bolak balik harus lap iler yang terasa mau jatoh. Takut aja kalo sampe netes ke jok mobil.
Pas melewati Pandaan, mobil malah terus melaju ke utara menuju Apolo. Biyuuuh, ini kan jalan menuju pulang, ya! Coba tadi sekalian matiin PC, lalu bawa tas sekalian. Runtukku dalam hati.
“Masih lama kahhhhhhh?” Ada suara dari jok belakang,”Laperrrrrr.”
Sementara BB tang tung tang tung dari member mobil di belakang, nanya kapan nih sampainya? Jauh amat nyari makan aja. Apa ga sekalian nyari sup Janda di Bekasi sana? Bolak balik bbm masuk.
Aku juga laper, tauk! Perut laper memang membuat orang gampang kesulut emosinya. Daripada terjadi huru hara. Aku coba mejamin mata. Berdoa dalam diam. Semoga jalanan lancar.
Dan, setelah menempuh perjalanan yang hampir 1 jam, penderitaan kami berakhir juga. Konvoi kamipun tiba di disebuah warung yang sangattttt sederhana, jauh dari kesan mewah. Warung tanpa bilik itu, masaknya pake kayu. Tungkunya ada 2 dengan nyala api yang berkobar-kobar ngasilin asap yang pedih plus bauk sangit dimana-mana. Sementara, sejauh mata memandang ga tersedia saung or gazebo selayaknya resto Sunda. Cuma ada meja dan bangku bamboo panjang ala desa. Warung dipingir jalan kecil itu diberi nama WTS a.k.a Warung Tengah Sawah mba IKA. Tempat makan yang jauhnya mirip tempat pembuangan anak jin.
Walopun sedikit pasrah melihat kenyataan yang terpampang, legah rasanya karena udah sampe. Kami lalu sujud syukur berjamaah. Tapi, nasib baik ternyata belum berpihak sepenuhnya. Ternyata, kami masih harus menunggu proses masak yang belum sepenuhnya selesai.
“Owwwh, Tuhan!” Jerit kami lebay bebarengan.
Tik… Tik… Tik… Detik demi detik merambat, berubah ke menit demi menit.
Tepat 15 menit menunggu, mbak-mbaknya nyodorin udang goreng  dengan panas mengepul dan bau yang meluluhlantakkan jiwa raga.
Akhirnya, tidak ada penantian yang tak ada akhirnya. Seperti menunggu akhir bulan datang untuk gajian, makanan yang kami pesanpun sudah siap dihidangkan. Piring, mana piring? Bagai orang kesetanan, kami rebutan piring.
Owh, betapa nikmatnya makan pada saat kelaparan begini. Sekalipun di warung yang jauh dari kesan mewah sama sekali.

No comments: